Distribusi dan Habitat
Pohon Nibung (Oncosperma tigillarium) adalah tropis berkelompok yang menjulang hingga 30 meter, ramping, dan penuh duri hitam pada batang serta pelepah daunnya. Tumbuh alami di Asia Tenggara, tanaman ini juga tumbuh subur di dataran rendah tropis yang panas, terpapar sinar matahari, dan lembab, tetapi juga mampu bertahan di lokasi yang sebagian beriklim subtropis.
Etimologi
Nama genus palem ini berasal dari bahasa Yunani: "oncos" yang berarti berpunuk atau bengkak, dan "sperma" yang berarti biji, merujuk pada raphe biji yang lebar. Sementara nama spesiesnya berarti "berbatang kecil", sesuai dengan ciri batangnya yang ramping dan relatif tipis dibandingkan palem besar lainnya.
Morfologi
1. Batang
Palem ini dapat tumbuh hingga 30 meter menjulang tinggi dengan sosok yang ramping, beruas-ruas, dan elegan. Batangnya berdiameter sekitar 15 cm, dikelilingi oleh bekas pelepah daun tua serta dipenuhi duri-duri hitam ramping sepanjang 5-10 cm. Pada bagian mahkota, batang tampak semakin mencolok karena dihiasi oleh deretan duri tajam yang memperkuat kesan gagah dan eksotis.
2. Daun
Daunnya berbentuk menyirip (pinnate) menyerupai bulu, dengan helaian yang menanjak hingga menyebar, kemudian melengkung anggun ke bawah. Warna daunnya bervariasi dari hijau tua hingga hijau cerah, menampilkan kesan segar dan rimbun. Namun, bagian daunnya juga memiliki duri halus yang menjadi ciri khas pertahanan alami tanaman ini.
Penanaman dan Perbanyakan
Tanaman palem ini sangat cocok dibudidayakan di dataran rendah tropis yang panas, lembap, dan terpapar sinar matahari langsung. Karena berasal dari kawasan rawa, palem ini memerlukan penyiraman rutin untuk menjaga ketersediaan air tanah. Perbanyakannya dilakukan melalui biji maupun tunas, tetapi benih segar harus segera ditanam karena cepat kehilangan daya tumbuh setelah dipanen. Proses perkecambahan biji berlangsung antara 3 hingga 6 bulan, sehingga kesabaran diperlukan dalam tahap awal penanaman.
Pemanfaatan Etnobotani
Selain nilai ekologis dan estetika, palem ini juga memiliki kegunaan tradisional. Kayunya yang sangat keras dan tahan terhadap pembusukan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal di Kalimantan untuk membuat perangkap ikan, menunjukkan peran pentingnya tidak hanya dalam ekosistem, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.
