Pohon / Bak Bayi / Pohon Pulai (Alstonia spatulata Blume.)

Identitas dan Morfologi

Pohon ini termasuk dalam famili Apocynaceae dan dikenal luas dengan nama lokal Pulai. Ia tumbuh sebagai pohon berukuran sedang dengan diameter batang sekitar 40 cm dan mampu mencapai tinggi hingga 30 meter. Kulit batangnya khas: halus, bersisik, atau pecah-pecah, terkadang mengelupas dalam bentuk alun-alun atau serpihan persegi panjang. Warna kulit batang bervariasi dari pucat abu-abu gelap hingga hampir hitam, dan bila terluka akan mengeluarkan getah putih berlimpah, ciri khas anggota keluarga Apocynaceae.

Daunnya tersusun dalam kelompok 3-5 helai, tanpa stipula interpetiolar pada pangkal tangkai. Helai daun tebal seperti kulit, gundul di kedua sisi, dengan permukaan hijau tua mengkilap di atas dan hijau pucat di bawah. Saat mengering, daun menunjukkan lapisan abu-abu keperakan, menambah karakter khasnya. Urat daun yang cekung di bagian atas membuat teksturnya semakin indah dan kokoh.

Distribusi Geografis 

Sebaran alami Pulai meliputi kawasan luas Asia Tenggara: Kamboja, Thailand, Vietnam, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Singapura, Jawa, Kalimantan, hingga New Guinea. Di wilayah Kalimantan, Pulai bahkan tercatat tumbuh hingga ke daerah Sabah. Persebarannya yang luas menandakan peran pentingnya dalam ekosistem hutan tropis, baik sebagai penyedia oksigen, pelindung tanah, maupun habitat bagi satwa liar.

Ekologi dan Habitat 

Pohon Pulai kerap tumbuh di daerah rawa serta pada vegetasi sekunder, terutama di tanah berpasir. Kemampuannya beradaptasi cukup tinggi, karena dapat hidup hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini menjadikannya spesies yang tahan terhadap lingkungan lembap maupun sedikit kering.

Pemanfaatan Etnobotani

Pohon Pulai memiliki nilai guna yang tinggi dalam kehidupan masyarakat lokal. Kayunya ringan namun cukup kuat, sehingga sering dimanfaatkan sebagai bahan papan tulis tradisional, peti, korek api, perahu kecil, hingga kerajinan tangan. Di beberapa daerah, Pulai juga dikenal dalam pengobatan tradisional, getah putihnya kadang dipakai sebagai obat luar, meski harus hati-hati karena sifatnya yang keras. Selain itu, keberadaan Pulai di rawa-rawa turut berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi, mencegah erosi, dan memperkaya keanekaragaman hayati di sekitarnya.

Kembali ke daftar artikel